Kemiskinan Ekstrem di Jatim Turun 3,5 Persen

Gubernur Jawa Timur 2018-2024 Khofifah Indar Parawansa menyambut gembira hasil perhitungan estimasi angka kemiskinan ekstrem tingkat kabupaten-kota di Jawa Timur.

Kemiskinan Ekstrem di Jatim Turun 3,5 Persen
Khofifah Indar Parawansa.

Surabaya, HARIANBANGSA.net - Gubernur Jawa Timur 2018-2024 Khofifah Indar Parawansa menyambut gembira hasil perhitungan estimasi angka kemiskinan ekstrem tingkat kabupaten-kota di Jawa Timur yang dikeluarkan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Dalam surat Kemenko PMK tertanggal 26 Februari 2024 tersebut, disebutkan bahwa terdapat 9 kabupaten-kota di Jawa Timur dengan persentase kemiskinan ekstrem 0 persen dan jumlah penduduk miskin ekstrem 0. Sembilan kabupaten-kota tersebut masing-masing adalah Kota Batu, Kota Mojokerto, Kota Probolinggo, Kota Malang, Kota Blitar, Kabupaten Magetan, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, dan Kabupaten Ponorogo.

“Alhamdulillah, kabar ini melengkapi kegembiraan saya dan Mas Emil Dardak di akhir kepemimpinan kami sebagai gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur. Artinya apa yang kami upayakan dengan berbagai program efektif menurukan angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur,” ungkap Khofifah di kediamannya di Surabaya, Jumát (15/3).

Khofifah menerangkan, dalam tiga tahun terakhir (2020-2023) angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur turun secara signifikan sebesar 3,58 persen atau 1.480.140 jiwa. Kemiskinan ekstrem di Jatim turun drastis dari 4,4 persen atau setara  1.812.210 jiwa pada 2020 menjadi 0,82 persen atau 331.980 jiwa pada Maret 2023 sehingga Jatim menerima penghargaan insentif  fiskal.

"Alhamdulillah, Jawa Timur memperoleh insentif fiskal sebesar Rp 6,215 miliar. Insentif tersebut akan dimaksimalkan untuk berbagai program dengan sasaran masyarakat miskin. Mulai dari padat karya tunai, pengadaan air bersih di desa rawan kekeringan, pasar murah untuk menekan inflasi, bantuan langsung tunai untuk penyandang disabilitas dan bantuan permakanan bagi PMKS di panti sosial," terangnya.

Khofifah menyebutkan berbagi terobosan yang dilakukan pemerintahannya dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrem tersebut. Disebutkan bahwa Pemprov Jatim menginisiasi penghapusan kemiskinan ekstrem melalui bantuan sosial bagi 22.186 keluarga miskin ekstrem di 15 kabupaten-kota. Masing-masing keluarga mendapatkan bantuan senilai Rp.1.500.000 yang digunakan sebagai modal usaha.

Penurunan kemiskinan ekstrim di Jawa Timur juga didorong oleh peningkatan pendapatan penduduk miskin yang melalui kegiatan usaha produktif yang didukung adanya permodalan UMKM. Beberapa program tersebut di antaranya Prokesra dengan plafon maksimal Rp 50 juta per debitur, telah terealisasi pinjaman murah bagi 8.941 usaha mikro kecil (UMK) dengan subsidi bunga, Sehingga pelaku usaha ultra mikro dan mikro hanya menanggung beban bunga pinjaman 3 prosen per tahun dengan jangka kredit maksimal 36 bulan.

“InsyaAllah, ke depan jika masyarakat Jatim kembali memberi amanat kepada kami, berbagai program tersebut akan terus berlanjut dan bertambah sehingga angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur dapat kita capai nol persen,” pungkasnya. (dev/rd)