Gelar Pelatihan Cybersecurity, Perkuat Peran Perempuan di Dunia Teknologi

Di tengah maraknya ancaman keamanan siber di era digital, keterlibatan perempuan dalam menangani tantangan tersebut juga menjadi semakin penting.

Gelar Pelatihan Cybersecurity, Perkuat Peran Perempuan di Dunia Teknologi
Project Manager ITS Nabu Angela Oryza Prabowo saat memandu sesi training dalam kegiatan pelatihan Women in Cyber Security di Departemen Teknik Informatika ITS.

Surabaya, HARIANBANGSA.net - Di tengah maraknya ancaman keamanan siber di era digital, keterlibatan perempuan dalam menangani tantangan tersebut juga menjadi semakin penting. Memahami urgensitas tersebut, sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkolaborasi untuk membentuk ITS Nabu, sebuah platform yang berfokus pada proyek-proyek keamanan siber.

Sebagai inisiatif pertama yang bertujuan untuk mengawali perubahan dalam ranah keamanan siber, ITS Nabu menyelenggarakan pelatihan Women in Cyber Security: Cyber Security Training Session di Departemen Teknik Informatika ITS, Jumat (22/3).

Menjadi kegiatan pertama, pelatihan berbasis teknologi ini dirancang sebagai langkah awal untuk mendorong lebih banyak partisipasi perempuan dalam bidang keamanan siber dan memperluas kesempatan bagi perempuan untuk berkembang dalam bidang teknologi ini.

Project Manager ITS Nabu Angela Oryza Prabowo menegaskan keyakinan timnya akan pentingnya peran perempuan dalam semua aspek, termasuk dalam ranah keamanan siber. Meskipun begitu, statistik menunjukkan bahwa perempuan hanya menyumbang sekitar 10-20 persen dari total tenaga kerja dalam industri Teknologi Informasi (TI) di Indonesia.

Berkomitmen untuk mengubah paradigma tersebut, pelatihan ini digelar sebagi hasil kolaborasi dari Laboratorium Networking Technologies and Intelligent Cyber Security (Netics) dan Net-Centric Computing (NCC).

“Pelatihan ini juga diarahkan untuk membuka peluang lebih besar bagi perempuan untuk berkontribusi secara signifikan dalam dunia digital, terutama di Indonesia,” ungkap perempuan yang kerap disapa Ryza tersebut.

Menargetkan perempuan sebagai segmentasi audiensnya, pelatihan ini menghadirkan Dyah Putri Nareswari sebagai pembuka pelatihan. Karyawan Cybersecurity and Privacy Associate di perusahaan PricewaterhouseCoopers (PwC) tersebut menyebutkan bahwa meskipun jumlah perempuan dalam bidang siber masih rendah, peluang untuk terlibat dalam keamanan siber sangat besar dan penting dalam dunia TI.

Keterlibatan perempuan dalam bidang keamanan siber tidak hanya terfokus pada programing atau analisis jaringan, tetapi juga mencakup aspek-aspek industri yang lebih luas. Dyah merekomendasikan langkah-langkah awal seperti mengikuti bootcamp atau pelatihan singkat terkait topik yang diminati sebagai batu loncatan untuk menjadi ahli keamanan siber. “Sehingga perlu kita persiapkan peranan perempuan dalam bidang siber dengan matang,” tambah alumnus Teknik Informatika ITS tersebut.

Narasumber lain yang dihadirkan, Elshe Ervianna Angely dari Laboratorium Netics turut serta memberikan wawasan mengenai Cloud Technology sebagai salah satu pilihan menarik dalam dunia TI. Bidang yang menggabungkan pemanfaatan teknologi komputer dan pengembangan berbasis internet ini juga mengalami kekurangan partisipasi perempuan di dalamnya. “Sehingga pemahaman dan motivasi yang kuat diperlukan guna membekali para perempuan untuk terjun ke dalamnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dalam upaya memberikan pemahaman yang lebih baik, peserta diberikan tugas dan tantangan gim untuk diselesaikan secara mandiri melalui sesi training. Setelah menyelesaikan tantangan yang diberikan, dilakukan pembahasan yang tak hanya berbentuk presentasi penyampaian materi, tetapi juga memberikan bimbingan secara langsung bagi peserta yang mengalami kesulitan.

Dalam rangkaian kegiatan ini, Angela dan tim berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam mengatasi kesenjangan gender di bidang keamanan siber. Ia juga akan terus berusaha memberdayakan lebih banyak perempuan untuk mencapai potensi penuh mereka dalam industri teknologi informasi.

“Pada hakikatnya, perempuan tidak kalah dalam kemampuan teknologinya, hanya perlu diberi kesempatan dan pengembangan lebih dalam,” tutup Angela.(rd)